Ayah, jangan keluar sampai kami memanggilmu.
Sampai kalian memanggil?
Tolong jangan keluar.
Baiklah.
Si kembar merencanakan sesuatu.
Mereka pergi menuju dapur.
(Mereka memindahkan kursi dengan perlahan.)
(Mereka meletakkannya di depan kulkas.)
Apa yang mereka rencanakan hari ini?
(Apa rencana mereka?)
(Pagi ini sebelum ibu mereka pergi)
Setiap hari, kalian bilang sayang pada ibu.
Tapi kalian selalu bercanda dengan ayah.
Haruskah kita lakukan sesuatu yang spesial untuknya hari ini?
Mari kita memasak./ Memasak?
(Makanan apa yang ayah suka?)
Bukankah ayah suka makanan pedas?
Makanan pedas./ Ayah tidak bisa makan makanan pedas.
Sungguh?/ Dia tidak bisa memakannya.
Ayah, apa kau bisa makan makanan pedas?
Tidak bisa.
Katanya ayah tidak bisa makan makanan pedas./ Lihat?
Aku benar.
Apa Hwijae menyadari rencana mereka?
Pertama, mereka mengeluarkan bahan-bahannya dari kulkas.
Makanan ini sudah selesai dibuat.
(Kita harus memasak dari awal.)
Lihat, aku menemukan nasi.
Tuangkan saus di atasnya.
Apa yang harus kita masukkan, Seoeon?
Bukankah dulu kita pernah makan nasi saus tomat?
Iya.
(Menekan sekuat mungkin)
Masukkan sebanyak-banyaknya.
Mereka menyelesaikan makanan pilihan mereka, nasi saus tomat.
Letakkan ini di atasnya juga.
(Saus apa yang sekarang mereka siapkan?)
Oh, tidak.
Kau tahu saus apa yang kau masukkan?
Bukankah katanya ayahmu tak bisa makan pedas?
Aku butuh gula, Seoeon.
Apa?
Karena takut rasnya pedas, mereka menambahkan gula.
(Menuangkan)
(Nasi saus tomat, mustar dan gula)
Sekarang, ayo pikirkan apa yang selanjutnya harus dimasukkan.
Ayo masukkan saus hijau ini juga.
(Ayo masukkan wasabi juga.)
Anak-anak, itu sangat pedas.
Apa itu?/ Mau coba masukkan?
Tentu.
(Aku tak tahu apa ini.)
Masukkan.
(Karena warnanya hijau, pasti ini menyehatkan.)
Ayo masukkan sedikit saja.
Mereka menyelesaikannya dengan wasabi.
Aku akan mencampurkannya./ Hei.
Makanan teraneh di dunia akan segera selesai.
Kau lupa memasukkan ini.
Tidak./ Kenapa tidak?
Kita harus memasukkannya./ Tidak boleh.
Rasanya tak akan enak.
Lalu, kita harus memasukkannya ke mana?
Kita harus memasukkannya di mangkuk yang lain.
Masukkan di sini.
Ayo buatkan ayah sup.
Mereka menuangkan kopi ke dalam mangkuk sebagai sup.
Tampaknya lezat.
(Nasi campur dan sup sudah selesai.)
Ayah, aku akan membuatkanmu soda.
Bahkan mereka menambahkan hidangan penutup...
untuk membantu pencernaan ayahnya.
Ini waktunya membuat soda.
Aku sungguh penasaran dengan reaksi Hwijae.
(Ayah, selamat menikmati.)
(Mereka bahkan mencicipi untuk memastikan rasanya.)
Enak.
Si kembar selesai menyiapkan makanan untuk ayahnya.
Bagaimana kalau kita membuatkannya surat juga?
(Si kembar duduk berhadapan untuk menulis surat.)
Aku akan menggambar lingkaran.
Lingkaran, selesai.
(Ibu menyiapka kata "Ayah" untuk mereka salin.)
(Tidak)
(Dia berhenti.)
Tidak.
Akan kucoba lagi. Aku harus membalik kertasnya.
Kertasnya kosong.
Pertama, aku harus menggambar jendela. Lalu...
Seperti ini. Lalu...
(Dia berkonsentrasi keras untuk membuat garis.)
Lalu kemudian...
Sekarang, aku hanya perlu membuat satu garis lagi.
Mereka menyelesaikan surat buatan mereka dengan sempurna.
Ayah.
Ayah, kami selesai. Silakan keluar.
Mari lihat apa yang sudah disiapkan...
anak-anak kesayanganku.
Ayah bisa menangis bahagia. Ayah harus menutup mata.
1, 2, 3./ 1, 2, 3.
(Mereka tak sabar melihat reaksinya.)
Apa ini?/ Apa?
Ini sup kopi./ Sup kopi?
Ayah akan mencobanya.
Aku yang membuatnya.
Astaga. Enak sekali.
Siapa yang membuat ini?/ Aku.
(Soda yang dibuat oleh Seojun.)
Ayah, cepat coba ini.
Yang ini? Apa ini?
Kami membuat nasi campur ini untukmu.
Ini?/ Iya.
Itu gula.
Apa lagi yang kau campurkan?/ Mari lihat.
Ada gula, saus tomat,
saus kuning dan saus hijau.
Kami membuatkan semua ini untuk ayah, jadi habiskanlah.
Ayah harus menghabiskannya?/ Iya, ayah.
Ayah akan coba nasi campurnya.
(Akhirnya dia mencicipinya.)
Bukan yang itu.
Astaga. Tunggu.
Enak, kan? Enak sekali, kan?/ Tapi kalian...
(Merasa bangga)
(Demi menghargai usaha mereka, dia tetap memakannya.)
Aku juga ingin mencicipinya./ Tidak, kau tidak boleh.
(Cemberut)
Ini sangat enak. Ayah harus menghabiskannya.
Kau sungguh ingin mencobanya?/ Iya.
Itu bukan ide yang bagus.
(Meski dilarang, dia tetap ingin mencobanya.)
(Hwijae memberikannya bagian yang ada gulanya.)
Rasanya agak pedas.
Kau membuat teri goreng?/ Iya.
(Matanya menjelaskan penderitaannya.)
(Apa ini?)
Lihat? Sudah ayah bilang ini pedas.
Ayo ambil minum.
(Hari ini Seojun belajar hal yang lainnya lagi.)
Ayah bilang ini pedas.
(Jadi ini artinya rasa pedas.)
Aku yang membuatnya.
Tapi aku ingin membuatnya jadi enak.
Rasanya tidak penting. Ayah suka usaha kalian.
Ayah sangat suka makanan yang kalian siapkan untuk ayah.
Kertas apa ini?
Kami yang menulisnya./ Kami menyayangimu ayah.
Sungguh? Astaga.
The Return of Superman, episode 182.
"Orang Terkasih Ada di Dekat Kita."
(Keesokan paginya)
Ke mana si kembar akan pergi?
(Diam-diam)
Aku akan makan telur./ Apa?
Telur, telur.
Aku juga./ Aku akan makan telur.
(Tiba-tiba Seojun ribut soal telur.)
(Si kembar sangat bersemangat.)
Aku akan memecahkannya di sini.
Kalau begitu, aku akan memecahkannya di sana.
(Mengetuk)
(Retak)
Oh, tidak. Apa telurnya mentah?
(Si sulung memecahkan telur dengan tangannya.)
Oh, tidak.
(Dia mencoba menghilangkan buktinya.)
(Hasilnya justru tambah kacau.)
(Astaga.)
Apa itu?
(Hwijae masih belum tahu.)
Berikan pada ayah.
(Hwijae masih belum paham.)
Seojun, cepat kembalikan telurnya.
Dia memecahkannya.
Benarkah?
Dia memecahkannya.
Benarkah?
Hei.
Di mana telurnya?
Kau dalam bahaya jika telurnya pecah.
(Seoeon tiba-tiba kabur.)
(Hwijae cukup marah.)
Kemari kalian berdua.
Kemari kalian berdua. 1, 2.../ Siapa yang dalam bahaya?
Tiga./ Siapa yang dalam bahaya?
Kalian berdua. Empat.
Berdiri di sana. Bukan begitu.
Berpegangan tangan.
Saling berhadapan.
Saling berpegangan tangan.
Saling berpandangan.
Tetap seperti itu. Kau tertawa?
Siapa yang tadi tertawa?
Saling bertatapan.
(Hwijae ingin mengajari mereka kasih sayang sesama saudara.)
(Suka atau tidak, mereka melakukannya bersama-sama.)
(Dia bergerak tak nyaman.)
(Bergoyang-goyang)
Berhenti main-main dengan tanganmu.
(Bersin)
(Dia bersin dengan kencang.)
(Menutup mata)
(Mengupil)
Ada apa?
(Perang mengupil dimulai.)
Rasanya gatal. Ada upil di sini.
(Mengelap)
(Bergerak-gerak sambil bercanda)
Ayah bodoh.
(Hwijae sungguh jatuh cinta pada anaknya.)
Ulangi, "Aku akan menurut pada ayah"...
Ulangi 5 kali. Lalu datanglah ke meja.
Mulai.
Aku akan menurut pada ayah./ Aku akan menurut pada ayah
(Mereka berteriak sekencang mungkin.)
Aku akan menurut pada ayah./ Aku akan menurut pada ayah
Cepat kemari.
(Mereka berdua selalu ceria.)
Ayah akan menulis surat untuk guru ayah di Buyeo.
Apa kalian ingin menulis surat juga?
Iya./ Untuk siapa?
Bibi kami di Vietnam.
Oh, kau merindukannya, kan?
Seojun, kau mau menulis surat juga?/ Aku mencintai Bona.
Kau mencintainya?
Aku mencintai Bona.
Seojun sungguh menyukai teman kecilnya, Bona.
(Dia menyukainya.)
Apa kau punya teman baru di sekolah?
Iya, Bona./ Bona?
Bona sangat cantik.
Di musim semi, banyak bunga bermekaran.
Aku hanya menyukai Bona kesayanganku.
Apa yang ingin kau tulis untuk Bona, Seojun?
"Untuk Bona kesayanganku."
Ayah akan membacakannya untukmu, dengarlah.
"Untuk Bona kesayanganku. Ini aku, Seojun. Aku menyukaimu."
Bukankah terdengar aneh?
Kedengarannya terlalu mendadak.
Apa ada kata-kata luar biasa yang ingin kau ucapkan?
(Apa lagi yang ingin dia ucapkan pada Bona?)
Kau sangat cantik./ Baiklah.
Kurasa kau sangat cantik"... Apa kau sungguh mencintainya?
Iya./ Seperti cintamu pada ibu?
Seojun, apa yang paling kau suka darinya?
Matanya./ Matanya?
Ini cukup gila.
Apa yang kau pikirkan saat menatap matanya?
Bunga./ Bunga apa?
(Bunga)
Dandelions./ Dandelions?
Mari tulis, "Matamu mengingatkanku pada bunga dandelion."
Apa kau memikirkannya sebelum tidur?
Benarkah?
Ayah./ Apa kau sudah melupakan Arin?
Kau sudah melupakannya?
Memang agak canggung, tapi surat ini...
mengekspresikan perasaan Seojun.
Kita akan pergi ke kantor pos.
Seojun, kau membawa suratmu?
Apa?/ Suratmu.
Bukankah suratnya ada padamu?
(Ikatan mereka sangat kuat.)
(Tidak ada di tas punggungnya.)
Tidak ada di sini./ Kupikir ada di sana.
Kau memberikannya pada siapa?
Aku tak memberikannya pada siapapun.
Ayah.
Ada apa?
Berikan suratnya padaku.
Aku butuh suratnya.
Kau tidak membawanya?/ Iya.
Bagaimana kau bisa lupa membawa surat ke kantor pos?
Tunggu.
(Terburu-buru)
Anak-anak./ Iya, ayah?
Baiklah. Ini dia./ Baik.
Astaga. Ide Hwijae sangat bagus.
Aku juga harus mencobanya kapan-kapan.
(Ini sungguhan?)
(Seojun selalu tidak peka.)
Pastikan suratnya sampai di bawah dulu.
(Bergelantung turun)
(Suratnya sampai dengan aman dan cepat.)
Aku dapat.
Hati-hatilah di jalan.
Ayah, ada yang ingin kukatakan.
Apa?/ Ada yang ingin kukatakan.
Apa itu, Seoeon?
Aku butuh dompetku./ Dompetmu?
Kau lupa membawanya?/ Iya.
Di mana dompetmu?
Ada di depan pintu kamar kami.
Jika kau tahu, kau harus membawanya.
Ayah harus memberikannya pada kami.
Ini dia. Ini giliranmu, Seoeon.
(Kurasa langsung dilempar saja juga bisa.)
Aku dapat.
Ayah./ Iya?
Aku haus.
(Mempersiapkan)
Sebagai mantan pramuka, sebatas ini saja aku bisa melakukannya.
Seoeon.
Iya.
Ini dia.
Apa sudah sampai?/ Sudah.
Baik, terima kasih.
Terima kasih, Ayah.
Terima kasih.
Sama-sama.
Pastikan untuk berterima kasih pada tukang posnya.
Baik./ Baik.
Dulu kami hanya punya surat.
Kami menyatakan cinta dengan surat itu.
Aku mengerti.
(Cuacanya bagus, dan perasaan mereka juga sedang baik.)
(Bona, tunggulah sebentar!)
Si kembar sampai di kantor pos dengan selamat.
Ada yang bisa kubantu?
Bisa tolong kirimkan surat ini?
Tentu.
Kau akan mengirimkannya pada siapa?
Pada Bibi Vietnam...
dan Bona yang kusukai.
Ini surat yang kau kirimkan.
Terima kasih untuk suratnya.
Hwijae, semangatlah!
Kau pasti bisa.
Seojun dan Seoeon, ini Bibi Vietnam.
Bibi menerima suratmu.
Bibi harap kalian bisa berkunjung.
Kapan kalian berencana datang?
Hai, Seojun.
Aku menerima surat darimu.
Sampai bertemu di TK. Dah.